Kamis, 30 Juli 2026

Usia Sia-sia

Orang-orang salah menebak umurku itu biasa. Sering kali lebih muda, hampir tidak pernah lebih tua. Biasanya yang menebak aku lebih tua itu malah anak-anak yang waktu aku seumur mereka, usia belasan saja sudah kuanggap dewasa.

Sekarang aku 32 tahun. Seringnya aku diduga masih kuliah. Harusnya aku senang, tanda bintik gelap dan kerut halus di wajahku tak menjustifikasi umurku. Tapi kadang pertanyaan muncul di kepalaku. Bagaimana usia 30an harusnya terlihat?

Aku jarang merias wajah. Karena tidak biasa. Hariku lebih sering terburu-buru di pagi hari demi tidur yang lebih lama. Kata temanku, mungkin karena pilihan pakaianku. Baju-bajuku memang jarang yang berwarna gelap. Tapi agar adil, potongannya standar, kebanyakan polos dengan palet warna tertentu yang aku rasa cocok denganku atau stripes. Kadang aku memakai topi warna terang atau scarf bermotif. Aku rasa harusnya itu tidak membuatku langsung jadi lebih muda. Auraku, kata Nadya. Apakah cara bicara maksudnya? Memang pendiam itu bukan definisi diriku. Tapi ibu-ibu tetangga pun tak ada yang pendiam dan rasanya itu malah mengukuhkan usia yang sesuai dengan mereka.

Yang terlucu, baru saja aku dikira usia 23 saat ikut lokakarya di awal bulan. Sudah kuduga aku pasti peserta dengan usia tertua. Begitupun sudah kuduga mereka pasti tak mengira. Mereka memanggilku dengan lugas. Vina. Sampai akhirnya namaku mendapat tambahan 'Kak' saat terkuak kalau hampir satu dekade selisihnya.

Seringnya aku tertawa (juga sedikit tersipu).

Tapi terkadang perasaan getir mencuat. Ada perasaan fana yang muncul ketika prediksi umurku jauh di bawah. Aku berharap betul itu usiaku sesuai yang disebut. Kenyataannya, aku sudah di lantai tiga yang penuh ekspektasi. Sibuk menahan tekanan gambaran ideal kehidupan. Isu jam tubuh pada wanita yang berkenaan dengan kelajangan masih kadang menghantui. Sepertinya ini ada hubungannya dengan sepuluh tahun yang rasanya sia-sia. Sekalipun berkali-kali menyadari mungkin memang jalan panjang yang ditakdirkan untuk dilalui. I might not be the woman I am today had I not lived the life I chose previously. Pada akhirnya, aku suka diriku yang sekarang. 



Berapapun tebakan usianya.

Kamis, 02 Juli 2026

Aku dapat kejutan

Terakhir aku coba bersih-bersih di korteks serebral karena kamu berhasil lolos dari hipokampus. Hampir satu tahun menyusup di setiap kerutan otak. Sial. Sampai sempat kuperas otakku mencari cara bisa sampai di tempatmu. Walau akhirnya aku sempat kecewa karena termakan imajinasi yang kususun sendiri. Berharap kemampuanku cukup mengesankanmu untuk aku bisa berada di tempat yang jauh. Tapi namanya juga harapan, yang nyata hanya sarapan.

Pagi hari itu aku gelisah. Sejak dua tahun lalu serabut dendrit di badanku jadi mulai terasah. Mereka bergetar ekstra saat intuisiku membuatku resah. Kali itu, aku mau mencoba peruntungan. Walau aku sadar ini semua hanya untuk menenangkan gejolak sel-sel yang ribut di dalam. Aku mengajakmu bertemu.


Tentu... kamu tolak. Dengan halus caramu. Jawaban yang membuat lega. Ekspektasiku bahkan lebih rendah. "Lunas, ya," kataku ke tiap inci reseptor di kulitku "pokoknya sudah kucoba." Kututup obrolan itu. Seperangkat saraf di tubuhku sepakat untuk berdamai, berhenti mengetuk-ngetuk dengan brutal. Dengan ini, aku bisa minum es jeruk peras dengan tenang sehabis membeli judul Kawakami lainnya di toko buku Post.


Tapi mungkin saat itu giliran hatimu yang diketuk-ketuk.


Tiap sel di badanku berpesta. Kejutanmu datang tiba-tiba. Aku suka kejutan. Sampai sekarang aku masih berpikir ketukan macam apa yang bisa membuatmu berubah pikiran. Apakah kamu ingin bertemu juga? Skenario di kepalaku dengan usaha super besar dan detail yang rapi tidak berbuah. Tapi pesan pendek mempertemukan kita lagi. Aneh.

Tawa kecil itu manis sekali. Suara yang pelan, berbisik seolah tidak ingin menarik perhatian. Dunia di sini terlalu ribut. "Overstimulated ya, Kak?" tanyaku yang mengundang tawa usil adikmu. Ingin aku puk-puk tapi tentu kamu tidak butuh tambahan stimulasi. Walau aku juga penasaran kapan terakhir kamu dipeluk dengan hangat. 

Aku kecewa sedikit karena kamu jalan dengan cepat, aku di belakang dengan bawaanku yang berat. Aku mau jadi tuan putri :( 

Kamu yang diam itu penuh kejutan. Mengusik keheningan dengan tanya yang membuatku tersipu. Umpanku kau tangkap dengan hati-hati. Manis.

Aku penasaran besok akan bagaimana. Tapi, jangan buat hanya aku yang terus bergerak ya. Ajak aku masuk perlahan dan tenang daripada harus menerobos.

Rabu, 14 Januari 2026

Bounce

Life is so funny that I finally stepped again to the curiosity of exploring love, relationship, and the feelings of it.

The last time I fall deep, the one that blurred the current and the past. Felt nice since it was too far away to reach so I keep it dearly in my imagination. To recap, it left blissful feeling and set the bar quite high. My favorite season of me being a lover that turned me into 2010s Vina who writes, taking photos, and enjoying niches. Well, It's all in my head until I don't know when I let life unfold. 

Then I started to challenge myself, jumping to a dating pool where humans seemed like a catalog. Screaming loud to be picked. Surface level chats to present likings and what's not. I talked honestly, sometimes polished it a bit to lit a new convo. It was all fun until the exhaustion became solid. The last convo there impressed me. A young man with a cute smile and dimples. The talk was so easy that I finally can dive deeper--breaking what exhaust me. From chat to recorded voices to call, but encounter. He was just so sweet that tickled me and left an awkward feeling because everything felt so fast. To be honest, I love feeling wanted. He did. Until I felt pushed to move on to the first chapter when I were still trying to understand the introduction pages. Maybe our reading comprehension is just different. I don't know you and you don't even know me. I don't know if I was just so stiff or just unused to it after long time of being ignored. "We even have never met," I said. Then things just slide like that, no more 'good morning'. Lol.

At the end, I'm just holding at this belief, love will find the way.



If it existed for me. (wkwk)


See ya!