Kamis, 02 Juli 2026

Aku dapat kejutan

Terakhir aku coba bersih-bersih di korteks serebral karena kamu berhasil lolos dari hipokampus. Hampir satu tahun menyusup di setiap kerutan otak. Sial. Sampai sempat kuperas otakku mencari cara bisa sampai di tempatmu. Walau akhirnya aku sempat kecewa karena termakan imajinasi yang kususun sendiri. Berharap kemampuanku cukup mengesankanmu untuk aku bisa berada di tempat yang jauh. Tapi namanya juga harapan, yang nyata hanya sarapan.

Pagi hari itu aku gelisah. Sejak dua tahun lalu serabut dendrit di badanku jadi mulai terasah. Mereka bergetar ekstra saat intuisiku membuatku resah. Kali itu, aku mau mencoba peruntungan. Walau aku sadar ini semua hanya untuk menenangkan gejolak sel-sel yang ribut di dalam. Aku mengajak bertemu.


Tentu... kamu tolak. Dengan halus caramu. Jawaban yang membuat lega. Ekspektasiku bahkan lebih rendah. "Lunas, ya," kataku ke tiap ujung saraf di kulitku "pokoknya sudah kucoba." Kututup obrolan itu. Mereka semua kompak berhenti berdemo. Aku bisa minum es jeruk peras dengan tenang sehabis membeli buku Kawakami.


Tapi mungkin saat itu giliran hatimu yang diketuk-ketuk.


Tiap sel di badanku berpesta. Kejutanmu datang tiba-tiba. Aku suka kejutan. Sampai sekarang aku masih berpikir ketukan macam apa yang bisa membuatmu berubah pikiran. Apakah kamu ingin bertemu juga? Skenario di kepalaku dengan usaha super besar tidak berbuah. Tapi pesan pendek mempertemukan kita lagi. Aneh.

Tawa kecil itu manis sekali. Suara yang pelan, berbisik seolah tidak ingin menarik perhatian. Dunia di sini terlalu ribut. "Overstimulated ya, Kak?" tanyaku yang mengundang tawa usil adikmu. Ingin aku puk-puk tapi tentu kamu tidak butuh tambahan stimulasi. Walau aku juga penasaran kapan terakhir kamu dipeluk dengan hangat. 

Aku kecewa sedikit karena kamu jalan dengan cepat, aku di belakang dengan bawaanku yang berat. Aku mau jadi tuan putri :( 

Kamu yang diam itu penuh kejutan. Mengusik keheningan dengan tanya yang membuatku tersipu. Umpanku kau tangkap dengan hati-hati. Manis.

Aku penasaran besok akan bagaimana. Tapi, jangan buat hanya aku yang terus bergerak ya. Ajak aku masuk perlahan dan tenang daripada harus menerobos.

Rabu, 14 Januari 2026

Bounce

Life is so funny that I finally stepped again to the curiosity of exploring love, relationship, and the feelings of it.

The last time I fall deep, the one that blurred the current and the past. Felt nice since it was too far away to reach so I keep it dearly in my imagination. To recap, it left blissful feeling and set the bar quite high. My favorite season of me being a lover that turned me into 2010s Vina who writes, taking photos, and enjoying niches. Well, It's all in my head until I don't know when I let life unfold. 

Then I started to challenge myself, jumping to a dating pool where humans seem like a catalog. Screaming loud to be picked. Surface level chats to present likings and what's not. I talked honestly, sometimes polished it a bit to lit a new convo. It was all fun until the exhaustion became solid. The last convo there impressed me. A young man with a cute smile and dimples. The talk was so easy that I finally can dive deeper--breaking what exhaust me. From chat to recorded voices to call, but never met. He was just so sweet that tickled me and left an awkward feeling because everything felt so fast. To be honest, I love feeling wanted. He did. Until I felt pushed hard to enjoy it when we were still in introduction pages. You don't even know me. I don't know if I was just so stiff or just unused to it after long time of being ignored. "We even have never met," I said. Then things just slide like that, no more 'good morning'. Lol.

At the end, I'm just holding at this belief, love will find the way.



If it existed for me. (anjay)


See ya!