Tahun 2023 aku melewatkan aktivitas mengoleksi memori. Padahal banyak yang terjadi. Yang sebenarnya paling mantap, tentu karena akhirnya aku solo travelling lagi dan lebih-lebih ke tempat yang jauh untuk ikut lokakarya seni. Travel dan seni, sebuah kombo favorit dalam hidupku. Waktu itu spesial sekali. Belum lagi bonus-bonus pergi jauh selanjutnya dari YME. Dari awalnya ke Austria dan Slovakia, lanjut ke Hongkong, Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan tentu surprise terakhir ke Jepang. Aku terbahak, oh ini rasanya jadi manusia bougee hahaha!
Dokumentasi 2025 cukup banyak. Kali ini aku mencoba peruntungan lagi. Hari Jumat lalu dan baru saja tadi sore, ternyata aku dapat penolakan. Penolakan hari Jumat tidak sesedih hari ini. Mungkin karena baru satu kegagalan dari tiga percobaan. Sekarang sisa satu lagi, rasa sedihnya bercampur ketegangan. Aku rakus. Aku berdoa malam minta tiga-tiganya masuk. Biar satu tahun back to back isinya residensi. Ingat dulu tanteku menggumam waktu dengar rencanaku daftar residensi. "Belajar terus kapan kerjanya?" Tapi dipikir-pikir, I chose to adapt. Adapt by learning. Dan aku suka.
Mimpinya sekarang, aku mau tinggal di luar Indonesia. Tentu di negara yang maju karena lotre kehidupanku dapatnya lahir di negara berkembang ini. Jadi daripada kunjungan sementara seminggu dua minggu seperti sebelumnya, aku ingin yang lebih lama. Cukup lama sampai aku memilih dengan mantap untuk menaruh jangkar. Artist visa, doaku sekarang.
-
Aku sekarang di kamar di Bandung. Sendiri. Waktu kecil tentu aku tidak terpikir akan tinggal sendirian cukup lama. Tiga tahun. Tidak ada sanak saudara terdekat yang jaraknya bisa ditempuh setidaknya setengah jam perjalanan. Jadi kalau aku sakit, aku mengeluh lewat telepon saja. Biar kata-kata dari yang terkasih setidaknya meringankan sedikit rasa lemas.
Perasaan sendirian mulai sering hinggap. Apalagi teman-teman mulai mengepakkan sayapnya. Meninggalkan dahan mulai yang bergoyang ini. Aku tunggu apa? Ada momentum datang tapi kupilih angan akan momentum selanjutnya. Modal percaya, kataku. Apakah perasaan akrab dengan kesendirian dan kesepian bisa menjadi modal bertahan di fase selanjutnya? Semoga!